Selasa, 06 Desember 2011

Pasirku dinegeri seberang


Ini adalah tulisan yang di dedikasikan untuk para kaum pribumi baik perantau maupun penduduk asli yang tinggal di pulau ini untuk menghayati betapa lugasnya makna Tanah air tercinta ini. martabat bangsa adalah martabat diri, martabat diri adalah pangkal dari sebuah keimanan kita terhadap Sang Pencipta. Jaga, lestarikan, dan pelihara bumi pertiwi kita...Indonesia

Deruan berita mengenai penyimpangan-penyimpangan yang melanda Nusantara ini terus nampak diberbagai media massa.namun dari segi kuantitas, dibanding berita-berita selebritis, politik, maupun lainnya,kasus ini sebenarnya baru dieksplor sekian persen saja.entah penyimpangan itu dilakukan oleh pihak luar maupun dari pihak bangsa kita sendiri.salah satu dari penyimpangan yang akan disampaikan adalah mengenai kasus tenggelamnya beberapa pulau yang pernah ada di Indonesia.dinilai ini adalah suatu penyimpangan karena hal ini timbul bukan disebabkan oleh fenomena alam,melainkan adanya campur tangan pihak-pihak atau manusia yang belum memiliki kesadaran akan berbangsa dan bernegara serta adanya mental Nasionalisme yang masih dangkal.
Banyaknya pulau di Indonesia yang kini telah membuatkan gedung-gedung pencakar langit, bangunan elite nan kokoh untuk Singapura itu telah mengiris pedih hati para patriot bangsa.ya..... dinegeri Singapura itulah pulau-pulau itu pindah.satu demi satu pulau Nusantara ini lenyap.para pengusaha penambang pasir dengan mudahnya mengeruk hanya lewat lobi-lobi kecil dan birokrasi yang nampaknya memang sangat mudah ditembus oleh para pejuang Singapura.bagi pemerintah Singapura, para pengusaha tambang pasir tersebut merupakan pejuang yang telah ikut mensukseskan Gala proyek dinegerinya, namun apakah sama halnya bagi Indonesia? Jelas sama sekali bertolak-belakang.
Sangatlah tragis apa yang sedang terjadi di Nusantara ini.Pulau-pulau yang seharusnya menjadi aset bangsa hingga akhir hayat, ternyata dijual dengan harga yang sangat rendah,kurang dari 3 dollar Singapura per kubik atau kurang lebihnya Rp. 15.000,-atau senilai dengan sepiring nasi uduk di Jakarta.dan anehnya harga ini masih lebih rendah dibanding harga pasir didalam negeri sendiri. Dapat kita bayangkan...apakah manusia-manusia di negara ini martabatnya juga bisa dibayar dengan harga serendah itu? Kenyataannya 100 % ya.dari yang namanya dinas perijinan, pertahanan dan keamanan, hingga anggota dewan pun pastinya terlibat didalamnya.Mental dan patriotisme yang masih rendah ternyata masih menjadi jiwa atau soulmatenya aparatur negara.terkadang mereka tersinggung dan marah apabila dikatakan seperti itu,namun apa realitas yang terjadi.rakyat kini telah pintar menganalisa pembodohan yang dilakukan pemerintah,sehingga tanpa bukti otentik maka selamanya rakyat akan mengecap seperti itu.sebetulnya kalau kita sadari,tidak sulit pemerintah untuk mengembalikan citra baiknya,namun karena nafsu dan emosional satani yang ada didirinya maka terkadang spontan mengubah mentalitasnya, dari yang awalnya disumpah akan memenuhi kewajiban dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya,memegang teguh UUD dan menjalankan segala UU peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada Nusa dan bangsa namun akhirnya berubah menjadi aji mumpung,yaitu mumpung menjabat, mumpung bisa, mumpung ada.
Jutaan ton pasir dari berbagai penjuru tepian pulau Indonesia dibawa ke negeri Tetangga.dengan bersumber dari data yang ada, Skandal ekspor pasir yang dilakukan ke berbagai negara di asia mencapai 9,5 juta US dollar- 14,41 juta US dollar.sedangkan Singapura tercatat sebagai pengimpor terbesar,yaitu mencapai kisaran 6 juta US dollar.
Kiranya tidak pantas jika Pemerintah membiarkan tragedi ini terus terjadi.apakah rakyat harus mengingatkan kepada pemerintah akan bunyi UUD45 pasal 33 ayat 3, yaitu...
Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Banyak rakyat, aktivis maupun LSM yang mengetahui hal ini merasa geregetan.seolah-olah Undang-Undang dinegeri ini hanyalah tulisan yang dibukukan dan sekedar menjadi teori maupun mata pelajaran ditiap-tiap sekolahan dan perkuliahan semata.sepertinya Pancasila dan Undang-Undang Dasar yang selama ini di dewa-dewakan oleh Pemerintah dalam mengatur kehidupan dalam berbangsa dan bernegara telah mengalami revolusi yang begitu tragis.
Sangat Nista sekali apabila negara ini ditenggelamkan oleh bangsanya sendiri,dahulu para pahlawan berjuang pantang mundur mencoba melawan ganasnya senjata api musuh,meninggalkan anak istrinya demi tekad merdeka,tidur beralaskan rumput dan beratapkan langit demi sebuah negara kesatuan.namun kini,jiwa kapitalis sedang berlomba-lomba merusak dan menjual Nusantara ini yang seharusnya tak kan pernah mampu dibayar dengan uang.jika pahlawan-pahlawan itu masih hidup,mungkin mereka akan berkata’’hanya lewat darahlah mereka bisa merebut dariku’’
Mungkin sudah saatnya Para Menteri di NKRI ini perlu diberikan raport tiap akhir tahun dan apabila rakyat mengetahui bahwa departemen yang dipimpinnya itu punya nilai merah,tak seharusnya Presiden memperpanjang masa jabatannya dan harus diganti dengan yang baru, yang lebih memiliki rasa Nasionalisme dan patriotisme tinggi,cerdas,berwibawa ,dan tanggap akan kondisi rakyatnya.
Tanah ini tempat aku berpijak,air ini sumber segala sumber kehidupan.telah terpisahkan persaudaraan pasir ke negeri seberang dan tak bisa di pertemukan kembali,karena si muda telah menjulang tinggi,sedang si tua tenggelam pedih.entah berapa tahun lamanya,...aku tak ingin negeriku tinggal jalan setapak.ataukah diufuk senja kamu akan melihat diseberang sana garis-garis cahaya mentari yang melewati gedung-gedung megah dan membentuk sandi seolah-olah mereka menari, tertawa terbahak-bahak sedang dirimu menjinjing celana panjang diatas lutut karena tempat kamu berpijak sudah berair garam serta mereka melambaikan tangan seraya mengucapkan,
bye-bye Indonesia, thanksfull and very kind of you......
(cukuplah kita membuat sebuah perubahan yang bermanfaat untuk umat banyak. contohnya disaat gunung Tampomas yang berdekatan dengan dusun wiradrana desa majalengka  Banjarnegara diledakkan untuk membendung sungai serayu untuk di jadikan pusat tatanan irigasi di daerah tersebut sehingga masyarakatnya mampu bercocok tanam dengan baik, memakmurkan dan membuat peradaban menjadi lebih maju, bukan seperti penambang2 pasir yang berkianat kepada bangsa yang besar ini dengan menjual martabat kepada bangsa lain) .
 
oleh: Gatot.S.Jatmiko
                                                the upper left corner is the island of Nipah.
                                                                        Nipah today
Reclamation beaches and small islands in the territory of Singapore has led Singapore's territorial expansion in a significant level, thus potentially shifting the territorial limits of its neighbors, including Indonesia. Land area expansion projects undertaken in this small country a long period can be interpreted as an attempt of annexation (incorporation) to veiled territory and sovereignty of the Republic of Indonesia.
This should be taken seriously by the government and should be included in the agenda in talks between countries in the ASEAN region, because it concerns the principles of neighborly relations.
With the beach reclamation project area, currently in Singapore have additional area of ​​100 square kilometers. Until the year 2010 is expected to increase the territory of Singapore's 160 square km. Due to the expansion of the territory, territorial waters, including wide international shipping lanes between Singapore and Batam will be displaced.
That change will also be automatically shifts into the territorial waters of Indonesia, since the width of the cruise line will be counted from the outermost point of the coastline. It was a veiled effort to harm and annexation.
Sand theft
Singapore's land reclamation by importing sand from Riau in a span of 24 years (1978 to 2002 has caused much harm, not only territorial but also aspects of economic, trade and environment.
In that period, losses suffered by Indonesia has reached 42.38 billion Singapore dollars, or USD. 237.328 trillion. These losses resulting from the difference between registered in Singapore and recorded in Indonesia. Also export of sea sand in the region are now entering Malaysia with a loss of 3.09 billion Singapore dollars. The analysts also noted environmentalist Batam there are at least 29 times back and forth carrying ship thousands of cubic meters of sea sand from Riau to Singapore every day, where ships load capacity ranging from 1000-4000 cubic meters of all freight.
Same SOEs Assets
Singapore's needs for procurement of sea sand from Indonesia 1.8 billion cubic meters, it will still take place until 2010. If the management of marine sand exports still like the old pattern, then the export of sea sand in a period of 10 years will come from Indonesia, can be estimated at 167 million cubic meters, or $ 13.68 billion Singapore dollars or 76.608 trillion. This amount when compared with the sale of assets of all state-owned assets for 12 years.
To overcome this fact, the government has tried to make a regulation in a Government Regulation (PP). But the PP is still open the possibility of distortions caused by the presence of a formula that still give leeway to the power of mining, which has had a permit to continue mining in the area of ​​conservation, mining permits until the validity period expires.
So at this time needs to be compiled Exploitation Act and Export of Sand that specifically governs the management and export of sand sea and on land. The law is expected to facilitate trade system oversight in the sand and provide environmental protection and territorial.
It is far more effective and transparent than the exploitation and export of sand that are only protected by government regulation, given the many interventions in the preparation of the PP. Presumably it's also why the PP has not been authorized by the government.
The Malaysian government has even banned entrepreneur to not export the sea sand to Singapore because he was conscious with sea sand dredging would damage the environment. But not so for Indonesia, Malaysia termination sand exports by Indonesia to make employers happy because there are no competitors in the export business of sea sand. Though the environment for the benefit of our children and grandchildren is at stake.
together with the passage of time, Singapore's extensive growing, all because the Singapore government reclaim the beach area on a large scale who need soil and sand very much, for the success of its reclamation program one of the Singapore government to buy land and sand from Batam without the knowledge of the government of Indonesia / illegal, consequently islands around singapore batam antecedent exploitation threatened to sink.
The most extreme is the case of Nipah Island, the island was almost sinking because of the sand, rocks and reefs are exploited and sent to the country next to their reclamation project, the more their land jutting into Indonesia, while our outer islands (the island of Nipah) is lost.the upper left corner is the island of Nipah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar